PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
“AKHLAK”

DISUSUN OLEH:
NAMA :
AMIN KHOLIL
NIM :
141021013
JURUSAN/JENJANG : TEKNIK INDUSTRI/S1
KELAS :
A
FAKULTAS :
TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
|
|
|
DAFTAR
ISI…………………………………………….……………………………………
BAB
I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….
1.
LatarBelakang…………………………………………………………………….......
2.
Tujuan……………………………………………………………………………...….
3.
Manfaat
Penulisan…………………………………………..........................................
BAB
II RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………….
BAB
III PEMBAHASAN…………………………………………………………………….
1.
PengertianAkhlak……………………………………………………………………..
2.
SumberdanCiri-CiriAkhlakIslami…………………………………………………..
3.
PembagianAkhlak…………………………………………………………………….
a) AkhlakMahmudah………………………………………………………………...
b) AkhlakMadzmumah………………………………………………………………
4.
Akhlak
Terhadap Orang Tua, Guru, dan Teman atau Orang Lain…………………….
a) Akhlak Seorang Anak Terhadap Orang Tuanya…………………………………..
b) Akhlak Seorang Murid Terhadap Gurunya………………………………………..
c) Akhlak Seorang Muslim Terhadap Teman dan Orang Lain………………………
5.
Pergaulan
Remaja Masa Kini………………………………………………………….
6.
ContohAkhlakTercela& Cara
Menghindarinya……………………………………..
7.
Contoh-ContohSikapTerpuji………………………………………………….
BAB
IV PENUTUP…………………………………………………………………………...
A.
KESIMPULAN………………………………………………………………………..
B.
SARAN………………………………………………………………………………..
|
ii
1
1
2
2
3
4
4
4
6
6
6
7
8
9
11
12
14
16
19
19
|
|
|
|
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam
kehidupan sehari-hari seorang muslim yang berpedoman pada ajaran-ajaran Islam
dapat terpancar dari tingkah lakunya (akhlak) sehari-hari, baik dalam lingkungan
keluarga maupun lingkungan sosialnya. Tingkah laku yang baik itulah
mencerminkan sikap seorang muslim seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad
SAW beliau merupakan contoh dan panutan kita sebagai seorang muslim. Bahkan
Allah SWT dengan jelas berfirman di dalam Al-Quran mengenai akhlak Nabi yang
harus kita contoh dan teladani, yang berbunyi:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab ayat 21)
Nabi
Muhammad SAW disegani tidak hanya oleh kaum muslimin, bahkan musuh kaum
muslimin pada zaman itupun juga ikut menyegani Nabi karena sifat dan tingkah
lakunya. Dari kecil hingga dewasa beliau merupakan sosok yang dikenal memiliki
tingkah laku atau akhlak yang mulia, misalnya beliau dipanggil dengan gelar
Al-amin artinya orang yang dapat dipercaya. Beliau sangat sayang dan menyantuni
anak yatim serta kaum dhuafa. Dan masih banyak lagi sifat serta tingkah laku
beliau yang patut kita contoh.
Akhlak bisa
dibentuk melalui kebiasaan. Seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan
perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata-mata taat kepada Allah dan
tunduk kepada-Nya merupakan ciri-ciri orang yang mempunyai akhlak. Oleh karena
itu seseorang yang sudah benar-benar memahami akhlak maka dalam bertingkah laku
akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan
dan kebiasaan yang menyatu membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang
dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.Dengan demikian memahami akhlak
adalah masalah fundamental dalam Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas
keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan
bahwa orang itu memiliki akhlak. Jika seseorang sudah memahami akhlak dan
menghasilkan kebiasaan hidup yang baik, yakni pembuatan itu selalu
diulang-ulang dengan kecenderungan hati (sadar).
Tidak bisa
dipungkiri, untuk menjadi manusia yang dihormati dan disegani oleh masyarakat
sekitar kita harus memiliki kepribadian yang bagus dan akhlak yang mulia. Tidak
ada satu orang hebatpun di dunia ini yang tidak memiliki akhlak yang bagus.
Sehebat dan sepintar apapun kita kalau akhlak dan kepribadian kita jelek dimata
masyarakat, maka kita akan dikucilkan dan tidak dianggap di masyarakat.
Akhlak
merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan dimanapun kita berada. Dewasa ini
banyak sekali anak yang menentang dan melawan terhadap orang tunya, ini
merupakan fenomona yang lazim terjadi di masyarakat kita, akhlak seorang anak
terhadap orang tua sudah sangat menghawatirkan. Mereka bisa bersikap baik
dengan teman tapi tidak bisa bersikap baik kepada orang tua, ini merupakan
contoh kecil dari penyelewengan akhlak yang sering dilakukan oleh remaja dan
anak zaman sekarang.
2. Tujuan
1. Mengetahui pengertian akhlak.
2. Mengetahui sumber dan ciri-ciri
akhlak islami.
3. Mengetahui pembagian akhlak.
4. Mengetahui akhlak terhadap
orang tua, guru, teman atau orang lain.
5. Mengetahui akhlak dalam
pergaulan masa kini.
3. Manfaat Penulisan
Manfaat yang bisa kita ambil dari penulisan makalah yang berjudul akhlak
ini yaitu pembaca diharapkan bisa mengetahui dan mempelajari tentang akhlak
yang baik itu seperti apa, pentingnya akhlak dalam kehidupan sehari-hari serta
bagaimana akhlak dalam bertindak dan bertingakah laku dalam keluarga dan masyarakat.
BAB II
RUMUSAN
MASALAH
Adapaun beberapa masalah yang akan dibahas dalam
makalah ini antara lain, sebagai berikut:
1. Apa pengertian akhlak?
2. Apa sumber dan ciri-ciri akhlak
islami?
3. Bagaimana pembagian akhlak?
4. Bagaimana akhlak terhadap orang
tua, guru, teman atau orang lain?
5. Bagaimana akhlak dalam
pergaulan masa kini?
BAB III
PEMBAHASAN
1. Pengertian Akhlak
Diterjemahkan
dari kitab Is’af Thalibi Ridhol Khallaq Bibayani Makarimil Akhlaq,akhlak adalah
sifat-sifat dan perangai yang diumpamakan pada manusia sebagai gambaran batin
yang bersifat maknawi dan rohani.Dimana dengan gambaran itulah manusia
dibangkitkan disaat hakikat segala sesuatu tampak dihari kiamat nanti.
Sedangkan
istilah akhlak menurut Ibnu Maskawi adalah sesuatu keadaan bagi jiwa yang
mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu tanpa melalui pikiran
dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat
aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang berulang-ulang. Boleh
jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan, kemudian
dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu bakat dan akhlak.
Akhlak
adalah kata jamak dari khuluk yang kalau dihubungkan dengan manusia,kata khuluk
lawan kata dari kholq. Perilaku dan tabiat manusia baik yang terpuji maupun
yang tercela disebut dengan akhlak.Akhlak merupakan etika perilaku manusia
terhadap manusia lain, perilaku manusia dengan Allah SWT maupun perilaku
manusia terhadap lingkungan hidup. Segala macam perilaku atau perbuatan baik
yang tampak dalam kehidupan sehari-hari disebut akhlakul kharimah atau akhlakul
mahmudah.Acuhannya adalah Al-Qur’an dan Hadist serta berlaku universal.
Rasulullah
SAW sendiri mencontohkan kepada kita betapa pentingnya memiliki akhlak yang
baik di kehidupan bermasyarakat baik akhlak kepada orang tua, orang yang lebih
muda, orang yang lebih tua, kepada kaum dhuafa, kepada teman, tetangga, dan
lain sebagainya.
2. Sumber dan Ciri-Ciri Akhlak Islami
Persoalan “Akhlak” di dalam Islam banyak dibicarakan dan dimuat pada
Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sumber tersebut merupakan batasan-batasan dalam
tindakan sehari-hari bagi manusia. Ada yang menjelaskan arti baik dan buruk.
Memberi informasi kepada umat, apa yang semestinya harus diperbuat dan
bagaimana harus bertindak. Sehingga dengan mudah dapat diketahui, apakah
perbuatan itu terpuji atau tercela, benar atau salah.
Kita telah
mengetahui bahwa akhlak Islam merupakan sistem moral/akhlak yang berdasarkan
Islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan Allah pada
Nabi/Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
Memang
sebagaimana disebutkan terdahulu bahwa secara umum akhlak/moral terbagi atas
moral yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat dan kedua
moral yang sama sekali tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, moral ini
timbul dari sumber-sumber sekuler.
Akhlak
Islam, karena merupakan sistem akhlak yang berdasarkan kepercayaan kepada
Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar daripada agama itu sendiri.
Dengan demikian, dasar/sumber pokok daripada akhlak Islam adalah Al-Qur’an dan
Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama Islam itu sendiri.
Memang tidak
disanksikan lagi bahwa segala perbuatan/tidakan manusia apapun bentuknya pada
hakikatnya adalah bermaksud untuk mencapai kebahagiaan (saadah), dan hal ini
adalah sebagai “natijah” dari problem akhlak. Sedangkan saadah menurut sistem
moral/akhlak yang agamis(Islam), dapat dicapai dengan jalan menuruti perintah
Allah yakni dengan menjauhi segala larangan Allah dan mengerjakan segala
perintah-Nya, sebagaimana yang tertera dalam pedoman dasar hidup bagi setiap
muslim yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Sehubungan dengan Akhlak Islam,
Drs. Sahilun A, Nasir menyebutkan bahwa Akhlak Islam berkisar pada:
1. Tujuan hidup setiap muslim, ialah menghambakan dirinya kepada Allah, untuk mencapai keridhaan-Nya, hidup sejahtera lahir dan batin, dalam kehidupan masa kini maupun yang akan datang.
2. Dengan keyakinannya terhadap kebenaran wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya, membawa konsekuensi logis, sebagai standar dan pedoman utama bagi setiap moral muslim. Ia memberi sanksi terhadap moral dalam kecintaan dan kekuatannya kepada Allah, tanpa perasaan adanya tekanan-tekanan dari luar.
3. Keyakinannya akan hari kemudian/pembalasan, mendorong manusia berbuat baik dan berusaha menjadi manusia sebaik mungkin, dengan segala pengabdiannya kepada Allah.
4. Islam tidak mengajarkan moral yang baru, yang bertentangan dengan ajaran dan jiwa Islam. Tetapi semua ajarannya berasaskan dari Al-Qur’an dan Al-Hadits yang diinterprestasikan oleh ulama mujtahid.
5. Ajaran akhlak Islam meliputi segala segi kehidupan manusia berdasarkan asas kebaikan dan bebas dari segala kejahatan. Islam tidak hanya mengajarkan tetapi menegakkannya, dengan janji dan sanksi Illahi yang Maha Adil. Tuntutan moral sesuai dengan bisikan hati nurani, yang menurut kodratnya cenderung kepada kebaikan dan membenci keburukan.
Akhlak di dalam ajaran Islam sangat rinci, berwawasan multi dimensial
bagi kehidupan, sistematis dan beralasan realitas. Juga akhlak banyak
dibicarakan tentang konsekuensi bagi manusia yang tidak berpegang pada akhlak
Islam. Manusia yang mengaku beragama Islam tetapi lebih cenderung melawan dan
tidak berpegang teguh pada akhlak Islam dapat dipastikan perbuatan dan tingkah
lakunya akan dibenci oleh masyarakat dan akan melenceng dari ajaran agama Islam
meskipun dalam syariat yang lain seperti shalat dan puasa tidak pernah
ditinggalkannya.
Akhlak Islam
bersifat mengarahkan, membimbing, mendorong, membangun peradaban manusia dan
mengobati bagi penyakit sosial dari jiwa dan mental. Tujuan berakhlak yang baik
yaitu untuk mendapatkan kebahagiann di dunia dan akhirat. Dua simbolis tujuan
inilah yang diidamkan manusia bukan semata berakhlak secara Islami hanya bertujuan
untuk kebahagiaan dunia saja.
Dalam ajaran
Islam memelihara sifat terpuji merupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah
yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dan adapun ciri-ciri akhlak
Islamiyah yaitu:
1. Kebajikan
yang mutlak
2. Kebaikan
yang menyeluruh
3. Kemantapan
4. Kewajiban
yang dipatuhi
5. Pengawasan
yang menyeluruh
3.
Pembagian Akhlak
Secara garis besar akhlak
dibagi menjadi dua, yaitu:
A. Akhlak Mahmudah
“Akhlak
mahmudah adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan seseorang.
Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji ini dilahirkan dari sifat-sifat yang
terpuji pula”.
Sifat
terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepada
Rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan
patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas
segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, qana’ah,
khusyu dalam beribadah kepada Allah, mampumengendalikandiri,silaturrahim, menghargai
orang lain, menghormati orang lain, sopan dan santun dalam bermasyarakat, suka
bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup
bersih, menyayangi sesama makhluk hidup Allah, dan menjaga kelestarian alam.
B. Akhlak Madzmumah
“Akhlak
madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak
iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.”
Sifat yang
termasuk akhlak madzmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak
mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, riya,
dengki, bohong, menghasut, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah,
qati’urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari
lingkungan, dan merusak alam.
Demikianlah
antara lain macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah. Akhlak mahmudah
memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak madzmumah
merugikan diri sendiri dan orang lain. Akhlak mahmudah merupakan akhlak yang
terpuji dan Nabi Muhammad adalah orang yang tepat sebagai panutan kita mengenai
kepribadiannya yang tidak diragukan lagi. Semua akhlak beliau merupakan akhlak
mahmudah dan beliau tidak satupun memiliki akhlak madzmumah.
Kemudian,
dari segi objeknya, atau kepada siapa akhlak itu diwujudkan, dapat dilihat
seperti berikut:
1.
Akhlak kepada Allah, meliputi antara lain:
ibadah kepada Allah, mencintai Allah, mencintai karena Allah,
beramal karena Allah, takut kepada Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah,
taubat, dan nadam.
2.
Akhlak kepada Rasulullah, meliputi antara lain:
taat dan cinta kepada Rasulullah, menjalankan sunnah-sunnah Rasul, menyayangi
anak yatim sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW
3.
Akhlak kepada keluarga, meliputi antara lain:
akhlak kepada ayah, kepada ibu, kepada anak, kepada nenek, kepada kakek, kepada
paman, kepada keponakan, dan seterusnya.
4.
Akhlak kepada orang lain, meliputi antara lain:
akhlak kepada tetangga, akhlak kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan
sebagainya.
5.
Akhlak kepada lingkungan, meliputi antara lain:
menyayangi binatang, merawat tumbuhan, tidak merusak alam, buang sampah pada
tempatnya, tidak melakukan pencemaran, menggunakan dan memanfaatkan alam sesuai
dengan keperluan, dan lain-lain.
4.
Akhlak Terhadap
Orang Tua,Guru, danTeman atau Orang Lain
A.
Akhlak Seorang Anak Terhadap Orang
Tuanya
Orang tua adalah penyebab
perwujudan kita. Seandainya mereka tidak ada, kitapun tidak akan pernah ada.
Kita tahu bahwa perwujudan itu disertai dengan kebaikan dan kenikmatan yang tak
terhingga banyaknya, plus berbagai rizki yang kita peroleh dan kedudukan yang
kita raih. Orang tua sering kali mengerahkan segenap jerih payah mereka untuk
menghindarkan bahaya dari diri kita. Mereka bersedia kurang tidur agar kita
bisa beristirahat. Mereka memberikan kesenangan-kesenangan kepada kita yang
tidak bisa kita raih sendiri. Mereka memikul berbagai penderitaan dan mesti
berkorban dalam bentuk yang sulit kita bayangkan.
Dengan demikian, menghardik
kedua orang tua dan berbuat buruk kepada mereka tidak mungkin terjadi kecuali
dari jiwa yang bengis dan kotor, berlumuran dosa, dan tidak bisa diharap
menjadi baik. Sebab, seandainya seseorang tahu bahwa kebaikan dan petunjuk
Allah mempunyai peranan yang sangat besar, tentunya siapapun tahu bagaimana
harus berbuat baik kepada orang yang semestinya memang harus diperlakukan
dengan baik. Bersikap mulia terhadap orang yang telah membimbing, berterima
kasih kepada orang yang telah memberikan kenikmatan sebelum dia sendiri bisa
mendapatkannya, dan yang telah melimpahinya dengan berbagai kebaikan yang tak
mungkin bisa di balas. Orang tua adalah orang yang bersedia berkorban demi
anaknya, tanpa memperdulikan apa balasan yang akan diterimanya.
Allah SWT berfirman dalam
Al-Quran, yang berbunyi:

Artinya:“Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang perintahkan-Nya serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.” (QS.
At-Tahrim ayat 6)
Firman tersebut merupakan
perintah bagi kita untuk menjaga diri dan keluarga kita agar tidak sampai
menjadai penghuni neraka nantinya. Peran keluarga sangatlah penting dalam
membentuk akhlak kita, didikan orang tua sangat mempengaruhi semua tingkah laku
dan akhlak kita sekarang dan nanti ke depannya, oleh karena itu wajib bagi kita
calon orang tua untuk memiliki akhlak yang baik sehingga ketika sudah
berkeluarga nanti kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita mengenai akhlakul
karimah.
Beberapa contoh akhlak seorang
muslim terhadap orang tuanya antara lain:
1.
Selalu berkata sopan dan lemah lembut terhadap orang tua.
2.
Hindari mengatakan tidak untuk perintah orang tua yang baik.
3.
Hindari bermuka masam di hadapan kedua orang tua.
4.
Hindari menyakiti hati kedua orang tua.
5.
Selalu minta doa dan restu pada orang tua.
6.
Selalu meminta maaf kepada kedua orang tua.
B.
Akhlak Seorang Murid Terhadap Gurunya
C.
Akhlak Seorang Muslim Terhadap Teman
dan Orang Lain
5.
Pergaulan Remaja
Masa Kini
BAB IV
PENUTUP
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT
atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, dan tak lupa pula penulis mengirim salam
dan salawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawakan penulis
suatu ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Akhlak” ini dengan lancar.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang
artinya,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun
hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzab : 21)
Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah SWT
menerangkan dan menegaskan bahwa kita sebagai makhluk-Nya haruslah memiliki sifat
atau akhlak yang baik, seperti yang terlihat pada diri Rasulullah Muhammad SAW.
Kepribadian beliau mulai dari, tingkah laku, perkataan dan pemikiran harus kita
teladani agar kita menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya. Manusia yang hidup
dalam bimbingan akhlak akan melahirkan suatu kesadaran untuk berperilaku yang
sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasulnya, serta akan mendapatkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun makalah ini ditulis dari hasil penyusunan
data-data sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber yang berkaitan
dengan agama Islam serta infomasi dari media massa yang berhubungan
dengan tema. Akhir kata, tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membimbing dan mengarahkan dalam penulisan makalah ini,
juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat
terselesaikannya makalah ini. Penulis berharap, makalah ini dapat
memberi manfaat bagi kita semua, dapat menambah wawasan kita mengenai
implementasi iman dan takwa dalam kehidupan modern. Makalah ini masih jauh dari
sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Yogyakarta, 19 September 2014
Amin Kholil
Guru merupakan orang yang bejasa terhadap sang murid. Dengan kata lain guru
merupakan orang yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada murid
diluar bimbingan orang tua dirumah, sehingga akhlakul karimah terhadap guru
perlu diterapkan sebagaimana akhlak kita terhadap orang tua.
Adapun etika dan adab terhadap guru menurut Ibn Jama’ah yaitu:
1.
Murid harus mengikuti guru yang dikenal
mempunyai akhlak yang baik, tinggi ilmu dan keahlian, berwibawa, santun dan
penyayang.
2.
Murid harus mengikuti dan mematuhi
perintah atau nasehat guru yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.
3.
Murid harus mengagungkan guru dan
meyakini kesempurnaan ilmunya.
4.
Murid harus mengingat kebaikan dan
ajaran (yang baik) dari guru atas dirinya sepanjang hayat meskipun gurunya
sudah wafat.
5.
Murid bersikap sabar terhadap perlakuan
kasar atau akhlak buruk guru. Hendaknya berusaha untuk memaafkan perlakuan
kasar, turut memohon ampun dan bertaubat untuk guru.
6.
Murid harus menunjukkan rasa berterima
kasih terhadap ajaran guru.
7.
Murid tidak mendatangi guru tanpa izin
lebih dahulu, baik guru sedang sendiri maupun bersama orang lain.
8.
Harus duduk sopan didepan guru.
9.
Bekomunikasi dengan guru secara santun
dan lemah-lembut.
10.
Murid tidak boleh menjawab pertanyaan
guru meskipun mengetahui, kecuali guru memberi isyarat murid untuk menjawab.
11.
Murid harus mengamalkan tayamun
(mengutamakan yang kanan),ketika memberi sesuatu kepada guru.
Hampir setiap hari, dikalangan masyarakat maupun di sekolah/kampus, kita
sering kali berkumpul dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengan kita
dalam beberapa hal. Pada saat kita kesulitan, merekalah orang yang tepat untuk
dimintai tolong baik bersifat pribadi pun kita lebih terbuka.
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling
membutuhkan satu sama lain, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan
serta memerlukan bantuan orang lain. Dalam pergaulan sehari-hari kita selalu
bersama mereka, maka kita patut menghormatinya serta menghargai kedudukan
mereka, demikian pula mereka akan menghormati dan menghargai kita, cara bergaul
yang baik dengan mereka (teman sebaya) yaitu hendaknya kita turut memikirkan
dan mempedulikan persoalan dan kesulitan mereka serta turut meringankan beban
permasalahannya.
Di antara akhlak kepada teman atau
kawan dan orang lain, baik teman di sekolah/kampus, di lingkungan maupun di
tempat-tempat yang lain adalah;
1.
Menghormati yang
lebih tua dan menyayangi yang lebih muda,
2. Menjawab salam, menengoknya ketika sakit, mengiringi
jenazahnya ketika meninggal,
3. Mendatangi undangannya, dan mendoakan “yarhamukalloh”
untuk yang bersin.
1. Saling tolong-menolong dalam kebaikan, sebagaimana firman
Allah:
وَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَ لاَ
تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَ الْعُدْوَانِ
Artinya: “Saling tolong-menolonglah
di dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah saling tolong-menolong dalam dosa
dan permusuhan.”
(QS. Al-Maidah : 2)
2. Tidak mencela atau mengolok-olok, dan tidak memanggilnya dengan panggilan
yang buruk, karena Allah SWT berfirman:
3. Tidak menggunjing yaitu tidak menyebarkan aib dan
kekurangannya. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ
مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ وَ لاَ نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ
عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَ لا تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَ لاَ
تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَ مَنْ
لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lainnya, boleh jadi yang
diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok, dan janganlah kaum wanita
mengolok-olok wanita yang lainnya, boleh jadi wanita yang diolok-olok lebih
baik daripada wanita yang mengolok-olok, jangan pula mencela diri sendiri, dan
janganlah memanggil dengan julukan-julukan (yang jelek), sejelek-jelek nama
adalah kefasiqan setelah iman, barangsiapa yang tidak bertaubat mala mereka
itulah orang-orang yang zhalim.”(QS. Al-Hujurat: 11)
4.
Tidak menggunjing yaitu tidak
menyebarkan aib dan kekurangannya. Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ تَجَسَّسُوْا وَ لاَ يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوْهُ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu
adalah dosa. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang lain, dan
janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lainnya, apakah salah
seorang di antara kalian suka memakan bangkai saudaranya yang sudah mati ?
Tentu kalian tidak menyukainya. Bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh
Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)
5.
Tidak saling mendengki, tidak saling
menipu, tidak saling membenci dan tidak saling membelakangi, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW:
لاَ تَحَاسَدُوْا وَ لاَ تَنَاجَشُوْا وَ لاَ
تَبَاغَضُوْا وَ لاَ تَدَابَرُوْا
Artinya: “Janganlah kalian saling
mendengki, jangan saling menipu, jangan saling membenci dan jangan saling
membelakangi!” (HR. Ahmad dan Muslim)
6.
Tidak saling menzhalimi, sebagaimana
firman Allah dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِيْ إِنِّيْ حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى
نَفْسِيْ وَ جَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku,
sesungguhnya Aku telah mengharamkan zhalim atas diri-Ku, dan Aku pun telah
menjadikannya haram di antara kalian maka janganlah kalian saling menzhalimi!”
(HR. Muslim)
7.
Tidak menyuruh berdiri seseorang untuk
kemudian dia menduduki tempat duduknya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ
فَيَجْلِسَ فِيهِ وَ لَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَ تَوَسَّعُوْا
Artinya: “Tidak layak menyuruh orang lain
berdiri dari tempat duduknya kemudian dia duduk padanya, tetapi
berlapang-lapanglah dan luaskanlah!” (HR. Ahmad dan Muslim)
8.
Tidak boleh mendiamkan lebih dari tiga
hari, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
وَ لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ
ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ
Artinya: ”Tidak halal bagi seorang
muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR Ahmad,
Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi)
9.
Saling mengoreksi dengan semangat
persaudaraan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَ الْمُؤْمِنُ أَخُو
الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَ يَحُوْطُهُ مِنْ وَرَائِه
Artinya: “Seorang mu’min adalah
cermin bagi mu’min lainnya, dan seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang
lainnya, dia mencegahnya dari kerugian dan menjaga (membela)nya di
belakangnya.” (HR. Abu Dawud)
10.
Tidak suka mencela dan berkata kotor
atau pun kasar, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَ لاَ اللَّعَّانِ وَ
لاَ الْفَاحِشِ وَ لاَ الْبَذِيْءِ
Artinya: “Seorang mu’min bukanlah
orang yang suka mencela, tidak suka melaknat, tidak berbuat keji dan tidak
berkata kotor.”
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
11.
Tidak boleh pula memutuskan hubungan
silaturrahim, karena Nabi SAW bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya: “Tidak akan masuk syurga
orang yang memutuskan hubungan silaturrhim.”(HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim,
Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
12.
Tidak boleh mencuri dengar pembicaraan
yang mereka. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيْثِ قَوْمٍ وَ هُمْ لَهُ
كَارِهُوْنَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ
Artinya: “Barangsiapa yang berusaha
mendengarkan pembicaraan orang-orang yang mereka tidak suka (untuk didengar
pihak lain) atau mereka menghindarinya niscaya akan dituangkan timah ke dalam
telinga mereka pada hari qiyamat.”(HR. Ahmad dan Al-Bukhori)
13.
Memaafkan kesalahan teman-teman,
sebagaimana firman Allah SWT:
وَ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا
وَ أَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ
Artinya: ”Dan balasan suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik
maka pahalanya atas (tanggungan) Alloh. Sesungguhnya Dia tidak menyukai
orang-orang yang zhalim.”
(QS. Asy-Syuro’:40)
14.
Memilih teman karib yang baik karena
teman karib atau sahabat dekat akan banyak mempengaruhi agama dan akhlak
seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِطُ
Artinya: “Seseorang berdasarkan agama
teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian meneliti dengan
siapa dia bergaul.”
(HR. Ahmad)
Sebagai makhluk sosial, manusia tak lepas dari orang
lain. Begitu pula dengan remaja. Ia memerlukan interaksi dengan orang lain
untuk mencapai kedewasaannya. Yang perlu dicermati adalah bagaimana seorang
remaja itu bergaul, dengan siapa, dan apa saja dampak pergaulannya bagi
dirinya, orang lain, dan lingkungannya.
Pergaulan berasal dari kata “GAUL”.Pergaulan itu sendiri
maksudnya kehidupan sehari-hari dalam persahabatan ataupun masyarakat.
Namun tidak demikian dikalangan kebanyakan remaja saat ini. “Gaul” menurut
dimensi remaja-remaja adalah ikut dalam trend, mode, dan hal-hal yang
berhubungan dengan glamoran hidup. Harus masuk ke dalam geng-geng, sering
bergabung, dan konkow-konkow diberbagai tempat seperti mall, tempat
wisata, game center, dan lain-lain. yang mana pada akhirnya, gaul dimensi
remaja akan menimbulkan budaya konsumtif.
Solidaritas dan kesetiakawanan sering dijadikan landasan
untuk terjun kedunia hura-hura. Dengan “setia kawan” itu pula kebanyakan remaja
mulai merokok, minum-minuman keras, mengonsumsi narkoba, dan bahkan seks bebas.
Kalau tidak ikut kegiatan-kegiatan geng ataupun teman nongkrong bisa dianggap
tidak setia kawan, paradigma seperti inilah yang menggerayangi pikiran sebagian
remaja masa kini. Sebenarnya dengan tindakan itu mereka telah merusak kemurnian
makna dari solidaritas dan kesetiakawanan itu sendiri.
Pergaulan remaja dibagi ke dalam dua aspek, yakni :
1. Pergaulan
Remaja Yang Sehat
Pergaulan remaja yang sehat adalah pergaulan yang
sesuai dengan etika pergaulan. Adapun beberapa cara mengembangkan pergaulan
yang sehat diantaranya:
a.
Adanya kesadaran beragama bagi remaja
Bagi anak remaja sangat diperlukan adanya pemahaman,
pendalaman, serta ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam kenyataan
sehari-hari menunjukkan, bahwa anak-anak remaja yang melakukan kejahatan
sebagian besar kurang memahami norma-norma agama. Oleh karena itu, kita harus
memiliki kesadaran beragama agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak
sehat.
b.
Memiliki rasa setia kawan
Agar dapat terjalin hubungan sosial remaja yang baik,
peranan rasa setia kawan sangat dibutuhkan. Sebab kesadaran inilah yang dapat
membuat kehidupan remaja masyarakat menjadi tentram.
c.
Memilih teman
Maksud dari memilih teman adalah untuk mengantisipasi
agar kita tidak terpengaruh dengan sifat yang tidak baik/sehat. Walaupun
begitu, tapi teman yang pegaulannya buruk tidak harus kita asingkan. Melainkan
kita tetap berteman dengannya tapi harus menjaga jarak. Jangan terlalu dekat
dengan dia.
d.
Mengisi waktu dengan kegiatan yang positif
Bagi mereka yang mengisi waktu senggangnya dengan bacaan
yang buruk (misalnya novel/komik seks), maka hal itu akan berbahaya, dan dapat
menghalang mereka untuk berbuat baik. Maka dari itu, jika ada waktu senggang
kita harus mengisinya dengan hal-hal yang positif. Misalnya menulis cerpen,
menggambar, atau lainnya.
e.
Laki-laki dan perempuan memiliki batasan-batasan tertentu
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,
sebaiknya remaja harus menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Misalnya, jangan
duduk terlalu berdekatan karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
f.
Menstabilkan emosi
Jika memiliki masalah, kita tidak boleh emosi. Harus
sabar dengan cara menenangkan diri. Harus menyelesaikan masalah dengan
komunikasi, bukan amarah/emosi.
g. Etika Pergaulan Remaja
Etika berasal dari bahasa Yunani kuno Ethos dalam bentuk
tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa, padang rumput,
kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan,sikap cara berpikir. Dalam
bentuk jamak ta etha´ artinya adalah adat kebiasaan. Arti inilah yang
melatarbelakangi terbentuknya istilah etika´ oleh Aristoteles (384-322 SM):
ilmu tentang adat kebiasaan, apa yang biasa dilakukan. Etika mempunyai
pengertian yang cukup dekat dengan moral. Moral dari bahasa latin mos jamaknya
mores berarti kebiasaan, adat. Dalam kamus bahasa Indonesia pertama kali
tahun1988 kata mores dipakai dalam arti yang sama yakni adat kebiasaan. Jadi
kata moral dan etika keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan.
2.
Pergaulan
Remaja Yang Tidak Sehat
Pergaulan remaja zaman sekarang memang sangat
memprihatinkan, tidak jarang berbagai berita mengenai kenakalan remaja
bermunculan. Mulai dari genk motor tawuran, seks bebas, sampai pada penggunaan narkotika NAPZA. Ini menunjukkan
bahwa pergaulan remaja saat ini sudah tidak sehat lagi. Cara pergaulan remaja
yang seperti sekarang ini tentu saja sangat menimbulkan dampak negatif. Selain
memperburuk situasi dan kondisi pergaulan remaja dan mempengaruhi cara hidup
remaja lain, cara pergaulan remaja yang seperti sekarang juga dapat
mempengaruhi kualitas hidup generasi anak cucu kita.
Remaja merupakan generasi yang diharapkan oleh bangsa
ini, pemimpin dan penerus dari para pemimpin bangsa ini adalah remaja saat ini,
itulah mengapa penting bagi kita untuk membenahi perilaku serta kebiasaan
remaja saat ini yang menyimpang jauh dari kaidah-kaidah kebenaran. Bisa
dibayangkan, bagaimana ke depannya negara ini bila dipimpin oleh pemimpin yang
bermasalah. Mengarahkan serta mengajak para remaja yang bermasalah ini ke jalur
yang benar merupakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai warga negara yang
baik. Nasib negara ini tergantung dari kita dan remaja kita.
Adapun solusi permasalahan remaja masa kini yaitu:
1. Pentingnya
kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orang tua dalam hal dan keadaan
apapun.
2. Pengawasan
dari orang tua yang tidak mengekang. Pengekangan terhadap seorang anak akan
berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya. Di hadapan orang tuannya dia akan
bersikap baik dan patuh, tetapi setelah dia keluar dari lingkungan keluarga,
dia akan menggunakannya sebagai pelampiasan dari pengekangan itu, sehingga dia
dapat melakukan sesuatu yang tidak diajarkan orangtuanya.
3. Seorang anak
hendaknya bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda 2 atau 3 tahun baik
lebih tua darinya. Hal tersebut dikarenakan apabila seorang anak bergaul dengan
teman yang tidak sebaya yang hidupnya berbeda, sehingga dia pun bisa
terpengaruh gaya hidupnya yang mungkin belum saatnya untuk dia jalani.
4. Pengawasan
yang lebih terhadap media komunikasi, seperti internet, handphone, dan
lain-lain.
5. Perlunya
bimbingan kepribadian bagi seorang anak agar dia mampu memilih dan membedakan
mana yang baik untuk dia maupun yang tidak baik.
6. Perlunya
pembelajaran agama yang diberikan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi
tempat ibadah sesuai agamanya
6.
Contoh Akhlak Tercela Dan Cara Menghindarinya
Secara umum menjauhi sifat tercela
dapat dilakukan dengan selalu menerima apa yang telah diberikan Allah,selalu
mengontrol diri agar tidah terjerumus dalam keburukan dan selalu berdzikir
kepada Allah SWT. Dibawah ini adalah beberapa contoh sifat tercela dan
cara menghindarinya, yaitu :
a. Israaf
Berlebih-lebihan (israaf)adalah melakukan sesuatu di luar batas ukuran yang
menimbulkan kemudharatan baik langsung ataupun tidak kepada manusia dan alam
sekitarnya. Pada dasarnya sikap berlebih-lebihan akibat dari sikap manusia yang
tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sekecil apa pun perbuatan manusia
berlebih-lebihan akan memberi dampak negatif bagi manusia dan alam sekitarnya
seperti kerusakan moral, harta benda dan kerusakan alam.
Sikap berlebih-lebihan sangat dibenci Allah, sebagaimana dalam firmannya :
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka
tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di
tengah-tengah antara yang demikian.’’
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari sikap berlebih-lebihan
antara lain:
·
Memikirkan dan merenungkan akibat dan bahaya Israf.
·
Mengenjdalikan nafsu, dan mengarahkan untuk memikul beban dan kesulitan
seperti shalat malam, shadaqah, shaum sunat , dll.
·
Senantiasa memperhatikan sunnah dan perjalanan hidup Rasulullah SAW
·
Selalu memperhatikan kehidupan orang-orang salaf dari kalangan sahabat,
mujahiddin dan ulama.
·
Tidak menjalin persahabatan dengan orang-orang Israf.
b. Tabdzir
Kata tabzir berasala dari kata bahasa arab yaitu bazara,yubaziru tabzir yang
artinya pemborosan sihingga menjadi sia-sia, tidak berguna atau terbuang.
Secara istilah tabzir adalah membelanjakan/mengeluarkan harta benda yang tidak
ada manfaatnya dan bukan dijalan Allah. Sifat tabzir ini timbul karena adanya
dorongan nafsu dari setan dan biasanya untuk hal-hal yang tidak disenagi oleh
Allah serta ingin dipuji oleh orang lain
Jika israf menekankan pada berlebih-lebihannya maka, tabzir menekankannya pada
kesia-sian benda yang digunakan itu. Sikap tabzir dapat terjadi dalam berbagai
hal, misalnya boros dalam menggunakan uang, boros dalam menggunakan harta,
boros dalam menggunakan waktu dan lain sebagainya. Agama Islam melarang pada
setiap umatnya untuk berlaku boros, karena hal tersebut dapat merugikan pada
diri sendiri dan orang lain. Perilaku tabzir dilarang oleh Allah swt
sebagaimana firman-Nya yang artinya:’’ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga
yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros’’.
Cara menghindari
sifat tabzir :
·
Memiliki keinginan yang kuat untuk membina kepribadian istri dan anak-anaknya.
·
Selalu memikirkan dan merenungkan realita kehidupan manusia pada umumnya
dan kaum muslimin khususnya.
·
Memikirkan dan merenungkan akibat dan bahaya tabzir.
·
Tidak menjalin persahabatan dengan orang-orang tabzir.
·
Selalu ingat karakter jalan hidup yang penuh beban dan penderitaan.
c. Fitnah
Dalam bahasa sehari-hari kata ‘fitnah’ diartikan sebagai
penisbatan atau tuduhan suatu perbuatan kepada orang lain, dimana sebenarnya
orang yang dituduh tersebut tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan. Maka
perilaku tersebut disebut memfitnah. Allah SWT berfirman:
Artinya:’’ Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak
ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika
mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali
terhadap orang-orang yang zalim.’’
Cara-cara yang
dapat dilakukan untuk menghindari fitnah:
·
Selalu waspada dan hati-hati dalam setiap masalah.
·
Jangan membuka rahasia atau aib orang lain.
·
Menumbuhkan rasa persamaan dan kasih sayang seama manusia,dll
d. Serakah
Serakah artinya merasa tidak senang dan tidak cukup degan apa yang telah
didapat nya sekarang meskipun yakin bisa mendapatkan lebih banyak. Sifat
serakah dapat dihindari dengan cara :
·
Menyadari bahwa manusia bukan hanya sebagai makhluk pribadi akan tetapi
juga sebagai makhluk sosial yang hidupnya saling membutuhkan.
·
Menyadari bahwa nikmat seperti rizki dan musibah seperti penyakit berasal
dari Allah untuk semua manusia
·
Melatih diri untuk membiasakan membantu orang lain dan memperhatikan
kepentingannya.
e. Dendam
Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu الحقد . Menurut
Al-Gazali dalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu
atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (gadab) itu terus dipelihara
dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap
orang yang menyakiti kita.
Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit
hati yag timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk
melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa
puas.
Sifat dendam dapat dihindarkan dengan cara sebagai
berikut:
·
Melihat suatu masalah secara obyektif.
·
Bila diri sendiri berbuat salah segera minta maaf dan bila pihak lain yang
berbuat salah dengan ikhlas memberi maaf,serta menyadari bahwa tiada manusia
yang sempurna.
f. Takabur
Takabbur adalah: merasa paling mulia (serba bisa, paling hebat), adapun
secara istilah yaitu menetapkan sesuatu pada dirinya terhadap segala sifat yang
baik dan luhur karena memiliki harta yang banyak atau ilmu yang tinggi.Dari
pengertian diatas, takabbur dapat diartikan merasa atau menganggap diri besar
dan tinggi yang disebabkan oleh adanya kebaikan atau kesempurnaan pada dirinya,
baik berupa harta, ilmu atau yang lainnya. Usaha menjauhi sifat takabur dapat
ditempuh dengan cara :
·
Menyadari hakikat kejadian manusia dan meyakini kebesaran Allah.dengan cara
demikian akan tumbuh sifat rendah hati, tidak takabur atau sombong.
·
Membentengi diri dari setiap pengaruh yang menyebabkan takabur.
7.
Contoh-ContohSikapTerpuji
Ada beberapacontohsikapterpuji yang
harus di milikidan di amalkanolehsetiap orang terutamabagiseorangmuslim, di
antaranya:
1. Amanah
(dapatdipercaya)
Amanahmerupakansalahsatusifatterpuji
yang di milikiolehrasulullah SAW yang harus di contoholehkitaselakuumatnya.
Sifatdapatdipercayaartinyamenyampaikanamanatkepada orang yang
berhakmenerimanyatanpa di lebih-lebihkanatau di kurangi.
2. Shidiq (benar)
Shidiqjugamerupakansalahsatusifatterpuji
yang dimilikiRasulullah SAW.
Dalamkehidupansehari-harishidiqdapatdiartikanjujur.
Seorangmuslimharusbersikapjujurdalamsetiapucapanatauperbuatan,
karenakejujuranmerupakansalahsatukuncidarikesuksesan.
3. Adil
Adiladalahmemberikansetiaphakkepadapemiliknyatanpapilihsasihataumembeda-bedakan.(Prof.DR.
Ahmad Tafsir)
Sebagaimuslim yang bijak,
apabilaiamempunyaiposisisebagaipemimpin,
makahendaklahiabersikapadildanharusberupayasekuattenagauntukselalumenegakkankeadilan.
4. Memaafkan
Kita sebagaiseorangmuslimharusmenyadaribahwasiapa
pun sebagaimanusiapastimengalamikesalahandankekhilafan. Untukitu,
dalammenjalanikehidupansehari-harihendaknyakitaselalumemilikijiwa yang
lapangdanberhatibesarsehinggamudahmemaafkankesalahan-kesalahan yang di
perbuatoleh orang lain.
5.Tolong-Menolong
Tiadaadamanusia yang
dapathidupberdirisendiri, tanpamemerlukanbantuan orang lain
walaupunsetinggiapapunjabatan yang dimilikinyadansekayaapapunharta yang
dipunyainya. Setiapmanusia yang hidup di duniainipastimembutuhkanpertolongan
orang lain. Olehkarenaituislamsangatmenganjurkankepadaumatnya agar
salingtolong-menolongdengansesama, baikberupamateri, tenagaataupikiran.
6.KerjaKeras
Di
duniainitidakadakesuksesantanpaadanyausaha, tidakada yang bersifatbimsalabim,
hanyadenganmembalikantelapaktangan, melaikansemuanyaharusmelaluiprosessebabakibatdanitumerupakansunnatullah.
Kesuksesandapatdiraihdengancaraberusahadanbekerjakeras. Karnasesungguhnya Allah
menyukaihambanya yang maubersungguh-sungguhdalammengerjakansegalaamalkebaikan
7.Islah
Yang
dimaksudislakh di siniadalahusahamendamaikanantaradua orang ataulebih yang
bertengkarataubermusuhan, ataumendamaikandarihal-hal yang
dapatmenimbulkanpeperangandanpermusuhan.
Islam diturunkanoleh Allah
sebagairahmat (kedamaian) bagiseluruhalam. Untukitusiapa pun insan yang
mengakusebagaimuslimharusselaluberusahamemancarkanrahmat, yang di
antaranyadapatberupamendamaikanseorangmanusia yang
sedangbertikaiataubermusuhan. karenadenganperdamaianituakanlahirkesadaran.
Dengankesadaraniaakanmengakuisegalakekhilafandankealpaan.
8.Silaturrahim
Istilahsilaturrahimtersusundari kata
sillah (menyambung) danrahimi (talipersaudaraan).
Adapunmaksudnyaadalahusahauntukmenyambung, mengikat,
danmenjalinkasihsayangatautalipersaudaraanantarasesamamanusia,
terutamadangansanakkeluarga (kerabat). Manusiapertama di
alamsemeatainiadalahNabi Adam As danSitiHawa. Untukitusemuamanusia di
mukabumiinipadahakekatnyaadalahsaudara. Makadariitukitasebagaiumatislam,
marilahkitajalinsilaturrahim agar terciptanyatalipersaudaraanantarsesamamuslim.
A.
Kesimpulan
Akhlak merupakan
sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita, akan menjadi apa kita
kedepannya tergantung dari akhlak kita. Sebagai hamba Allah yang beriman dan
bertaqwa kepada-Nya sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu berbuat baik dan
meninggalkan segala sesuatu yang buruk.
Sumber dari semua akhlak mahmudah di dunia ini hanya
satu, yaitu yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW, bila kita mencontoh dan
mengamalkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari maka bisa dipastikan kita
akan selamat dunia dan akherat.
B. Saran
Kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang paling mulia,
dengan sepantasnya kita mempunyai akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela
sebagai mana Allah SWT menciptakan manusia di bumi ini sebagai khalifah atau
pemimpin. Maka jika kita tidak memiliki akhlak terpuji tersebut maka hancurlah
generasi manusia sebagai khalifah dan akan diperbudak iblis dan syaitan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kartini, Kartono, Dr., (2005). Kenakalan
Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2. Sari, E. S., (2007).Hukum Dalam
Ekonomi.Jakarta: Grasindo.
3. Pindyck, R. S., Rubinfeld, D., (2005). Microeconomics,
sixth edition. New Jersey: Prentice Hall.
4. Ilmu Dari Simba. (2013, 3 Januari). Contoh
Makalah Akhlak. Diperoleh 24 September 2013, dari
http://simba-corp.blogspot.com/2012/03/makalah-akhlak.html
5. Citra Riski Blog. (2013, 18 Mei). Makalah
Akhlak Islami. Diperoleh 24 September 2013, dari
http://citrariski.blogspot.com/2011/02/makalah-akhlak-islami.html
6. Agama Islam. (2011, 21 Agustus). Akhlak
Mahmudah dan Akhlak Madzmumah. Diperoleh 24 September 2013, dari
http://www.belajaragamaislam.blogspot.com/
7. Ilmu Islam. (2012, 14 September). Pengertian
Akhlak. Diperoleh 24 September 2013, dari http://www.ilmuislam.blogspot.com/
8. Gudang Ilmu. (2012, 26 Maret). Monopoli
dan Perdagangan Dalam Islam. Diperoleh 25 September 2013,
darihttp://www.gudangilmu.blogspot.com/
9. Qur’an. The Noble
Qur’an. Diperoleh 25 September 2013, dari http://quran.com/
10. Jamal Beta. (2012, 27 September). Akhlak
seorang anak kepada orang tua. Diperoleh 5 Oktober 2013,
darihttp://jamalbeta.blogspot.com/
11. Ietha Fairuz. (2013, 14 Juli). AKHLAK
TERHADAP TEMAN SEBAYA. Diperoleh 5 Oktober 2013, darihttp://iethafairuz.blogspot.com/2013/07/akhlak-terhadap-teman-sebaya.html
12. Eka Chuby. (2007, 19 Desember). Pergaulan
Remaja Masa Kini. Diperoleh 6 Oktober 2013, dari
http://ekachuby.blogspot.com/2007/12/pergaulan-remaja-masa-kini.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar