Sejumlah warga mengaku tidak begitu mempermasalahkan
kenaikan harga bahan bakar minyak. Dengan catatan, alokasi pengalihan subsidi
tersebut jelas dan dapat berjalan secara transparan serta tepat sasaran. Hal
itu diungkapkan Ilham Sujono, karyawan sebuah perusahaan otomotif. Selama ini,
kata dia, kenaikan BBM direspons negatif karena membawa efek turunan seperti
kenaikan harga bahan-bahan pokok.
"Karena dari yang udah-udah, dengan BBM naik,
saya ngerasa sebagai masyarakat efek yang signifikan terasa itu cuma
harga-harga yang lain jadi naik," kata Ilham, saat ditemui di Stasiun
Bekasi, Senin (17/11/2014) malam.
Ilham berharap, pemerintah, khususnya Presiden Joko
Widodo dapat menjelaskan kepada masyarakat apa keuntungan yang didapatkan
dengan kenaikan harga premium dan solar Rp 2000 per liter itu. Ia menambahkan,
dana ekstra yang dikeluarkan masyarakat harus sampai ke sektor-sektor yang
dibidik oleh Jokowi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
"Dia (Jokowi) pasti punya alasan, kenapa
naiknya mesti Rp 2000, kenapa enggak gopek (Rp 500) atau malah Rp 10
ribu," ujar Ilham.
Dengan demikian, menurut Ilham, masyarakat tak akan
keberatan harga BBM dinaikkan, asal hasil pengalihan subsidi tersebut terlihat
dan dapat disosialisasikan ke masyarakat.
"Masyarakat pasti setuju asalkan
hitung-hitungannya atau detailnya transparan. Kalau ada detail jelasnya kan,
masyarakat jadi tahu, negara kita sedang ngapain, progres yang dijalanin fokus
ke mana," ujar dia.
Dukungan terhadap kenaikan harga BBM juga
disampaikan Deckyrich Dwiard, seorang karyawan salah satu media di Jakarta.
Menurut dia, alasan kenaikan harga BBM bersubsidi yang dialihkan untuk sektor
pendidikan dan kesehatan dapat diterima masyarakat.
"Pendidikan itu menunjang untuk tenaga kerja
yang lebih berkualitas, dan didukung tanggungan kesehatan dan kesejahteraan
dari pemerintah," ujar Deckyrich.
Menurut Deckyrich, manfaat subsidi BBM pada era
pemerintahan sebelumnya kurang dirasakan masyarakat. Ia berharap, pemerintahan
Jokowi memegang komitmen untuk mengangkat kesejahteraan Indonesia di balik
kenaikan harga BBM.
"Walau cuma sebentar sih, tapi saat jabat jadi
Gubernur (DKI Jakarta) dia terbilang commit sama omongannya. Jadi sejauh ini
sih saya percaya," kata dia.
Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan
kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, yakni premium RON 88 dan
solar mulai Selasa (18/11/2014) pukul 00.00. BBM jenis premium naik dari Rp
6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar naik Rp 5.500 menjadi Rp 7.500. Kenaikan harga
BBM ini dilakukan untuk mengalihkan subsidi dari sektor konsumtif ke produktif.
Dari kenaikan harga BBM bersubsidi ini, pemerintah mengklaim akan mampu
mengalihkan dana subsidi BBM itu ke sektor produktif yang nilainya lebih dari
Rp 100 triliun.
(Sumber : @Kompas.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar